Minggu, 23 Maret 2014

Pengembangan SIG untuk Pengelolaan Pendidikan


Aplikasi SIG dalam kehidupan sehari-hari telah dimanfaatkan untuk penentuan letak ibu kota atau pusat pertumbuhan wilayah, perencanaan tata ruang, evaluasi kemampuan dan kesesuaian lahan, penentuan tingkat erosi suatu kawasan, penentuan arahan pemanfaatan lahan, rehabilitasi dan konservasi lahan, analisis tentang lingkungan, prediksi ketinggian banjir dan atau tingkat kekeringan, prediksi kebakaran hutan dan lain-lain.
Untuk mengembangkan SIG dengan optimal dalam bidang pendidikan harus diawali dari identifikasi masalah yang dihadapi oleh para penelola pendidikan. Berdasarkan hasil  kajian pustaka, masalah yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada umumnya adaah masalah angka partisipasi pendidikan, persebaran guru, rasio guru-murid, kualifikasi tenaga pendidik yang belum S1, sarana dan prasarana pembelajaran yang belum memadai, angka buta huruf, rendahnya akses pendidikan dan lain-lain. Dalam sistem informasi geografis, indikator-indikator pendidikan seperti yang disebutkan diterjemahkan kedalam bentuk peta layer. Ketentuan dalam pembuatan layer peta adalah konversi data tabel kepada data titik, garis, dan poligon. Tidak semua data tabel dikonversi menjadi titik, garis, dan poligon tetatpi sebagian hanya dapat dikonversi menjadi titik sedangakan yang lainnya bisa tiga0tiganya. Data pendidikan yang dapat dikonversi menjadi titik misalnya lokasi sekolah. Sedagkan data pendidikan yang hanya dapat ditampilkan dengan pologon adalah APK atau APM dikecamatan atau kabupaten tertentu. Untuk lokasi sekolah tidak dapat menjadi data wilayah sedangkan data APK atau APM tidak dapat dibuat simbol titik.

Hampir semua data pendidikan umumnya melekat pada data titik lokasi sekolah. Sekolah merupakan unit terkecil dari keberadaan data bahkan dianggap sebagai sumber data pendidikan. Pada sekolah akan diperoleh data siswa, guru, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana sekolah, kegiatan pembelajaran atau kurikulum, dan lain-lain. Dengan demikian degradasi tampilan simbol peta pada SIG akan terlihat dari perubahan warna simbol titik sekolah. Pentingnya aplikasi SIG untuk pendidikan adalah pada analisis atau tafsir data pada setiap perubahan simbol titik sekolah.

Ket:

*) jenis data ini identik dengan sampel penelitian untuk pengembangan SIG



HASIL

Kegiatan pokok penelitian adalah pembuatan skema merupakan kegiatan perencanaan analisis data kependidikan. Salah satu contoh yang dapat ditampilkan disisi antara lain skema untuk persebaran guru yang tidak merata. Data pokok yang dibutuhkan adalah jumlah siswa, jumlah guru, wilayah administrasi, dan sebaran sekolah. Peta dan atau SIG, secara visual hanya dapat mampu menampilkan garis batas wilayah administrasi dan lokasi sekolah. Jumlah siswa dan jumlah guru diformulasikan menjadi rasio  guru:murid. Pengelompokkan hanya ada tiga sekolah yang memiliki siswa dibawah 28 orang perguru, sekolah yang memiliki siswa 28 orang perguru, dan sekolah yang memiliki siswa diatas 28 orang perguru. Dengan demikian skema yang dibangun adalah :


Gambar Skema SIG Untuk Pemetaan Sebaran Guru

Gambar Skema SIG Untuk Peningkatan Efisiensi Pengelolaan
Setelah skema kegiatan pembuatan skema, selanjutnya melakukan kegiatan pengembangan. Kegiatan pertama paling lama adalah entry data yang dilakukan secara bertahap. Dari peta analog rupabumi kali pertama dibuat peta digital (vektor) dengan cara digitazing. Peta rupabumi diperoleh dari BAKOSURTANAL. Berikut adalah contoh peta rupabumi sebagian dari kabupaten sukabumi. Sumber data lainnya adalah peta analog lokasi sekolah yang juga diterbitkan oleh BAKOSURTANAL yang dikeluarkan pada tahun 1999 namun digunakan oleh tim pengelolaan sistem informasi geografis departemen pendidikan nasional. Peta analog yang tersedia tersebut memiliki titimangsa tahun 2007. Pada peta tersebut sudah memiliki ploting lokasi sekolah diseluruh kabupaten sukambumi.

Selanjutnya dilakukan editing data, konversi koordinat,  Anotasi, Pemberian label, dan Pemodelan atau tumpangsusun. Kegiatan pemodelan merupakan egiatan simulasi tumpangsusun peta untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Dari berbagai potensi yang dapat digali dari ketersediaan data digital, dipilih sesuai dengan pembatasan masalah penelitian.

Sebagai contoh, peta persebaran guru yang menunjukkan gejala tidak merata tidak dapat dilihat dari peta kecamatan, tetapi hanya dapat dilihat dari peta sekolah dengan warna yang sesuai dengan proporsi atau rasio guru:murid. Setelah diketahui adanya delapan kecamatan dengan jumlah guru yang relatif padat berikutnya dtetapkan delapan kecamatan yang untuk smentara waktu tidak menerima penempatan guru, seperti kecamatan Cisaat, Cireunghas, Sukaharja, Kadudampit, Gununggurug, Cisaat dan Cikembar.

Contoh lainnya adalah sebaran guru yang sudah S1 dan blum S1. Pada kasus ini SIG hanya mampu menampilkan sebaran lokasi sekolah dengan lima warna. Warna pertama untuk menunjukkan lokasi sekolah yang memiliki 1-5 orang guru yang belum S1, berikutnya ada warna sekolah yang memiliki 6-10 orang, warna sekolah yang memiliki 11-15 orang belum S1, warna sekolah yang memiliki lebih banyak dari 15 orang.





Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan penelitian dan pengembangan ini adalah :

Bahwa jumlah data yang dibutuhkan untuk pengelolaan pendidikan sama banyaknya dengan masalah pendidikan yang sedang dihadapi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, jumlah data yang dibutuhkan hanya sekitar delapan layer peta saja yaitu peta administrasi kecamatan, peta akses jalan, jumlah siswa tiap sekolah, jumlah guru tiap sekolah, jumlah guru PNS, jumlah guru berdasarkan kualifikasi akademik S1, usia guru, dan jarak antar sekolah. Dengan delapan peta yang perlu disediakan, para pengelola dapat menampilkan sejumlah informasi yang dibutuhkan yaitu untuk pemerataan persebaran guru, peningkatan kualifikasi akademik menjadi S1, pengangkatan PNS, peningkatan efisiensi pengelolaan pendidikan, penanganan mismath, pengangkatan guru untuk tambal sulam dan penanganan didaerah terpencil.



Hal yang perlu diperhatikan bagi para pengembang SIG, data yang lengkap tidak dapat dilakukan serentak. Besarnya dana yang disediakan pemerintah daerah tidak dapat menjamin pengumpulan data dengan lengkap, karena daa diperoleh secara sesaat, tetapi didapat dari proses yang panjang.



Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/196708121997021-AHMAD_YANI/ARTIKEL_SIG_versi_indonesia.pdf



1 komentar: